Yakin saja! itu sudah..

26 08 2009

desertDari Syaddad bin AlHad, ia bercerita bahwa seorang Badui yang tinggal jauh di pinggiran kota Madinah datang kepada Nabi SAW, bersahadat dihadapannya dan berkata: “Aku ingin berjihad bersama engkau.”

Tatkala terjadi peperangan dan kaum muslimin memperoleh kemenangan, maka Nabi SAW membagi harta rampasan perang (ghonimah) kepada semua tentara Islam serta kaum muslimin, tak terkecuali si Badui tersebut.

Ketika seorang utusan memberikan bungkusan ghonimah tersebut, si Badui bertanya: “Apa ini?”, utusan itu menjawab: “Ini adalah bagianmu dari Nabi SAW.”
Lalu segera si Badui mengambil bungkusan tersebut dan bergegas menemui Nabi SAW di Madinah. Di hadapan Nabi SAW ia bertanya: “Apa ini?”, Nabi SAW tersenyum dan menjawab: “Ini bagian harta rampasan perang untukmu”.
Si Badui segera menjawab: “Bukan karena ini aku mengikuti engkau, Muhammad! Aku mengikutimu agar aku bisa berperang membela agama ini, lalu aku terkena anak panah disini, yang menyebabkan aku mati syahid dan masuk ke Syorga-Nya.”; Katanya tegas sambil menunjuk lehernya.
Nabi SAW tersenyum dan menjawab: “Jika engkau berkata benar kapada Allah SWT, tentu Dia akan membenarkan ucapanmu.”

Beberapa saat kemudian, kaum muslimin harus bangkit berperang lagi menghadapi kaum kafir. Perang berlangsung sangat sengit dan akhirnya Allah SWT memberi kemenangan kepada kaum muslimin.

Ketika hendak menguburkan para syuhada perang, sesosok mayat dibawa ke hadapan Nabi SAW dengan anak panah yang menancap di lehernya.
Nabi SAW bertanya: “Apakah ini orang badui itu?”
Para sahabat menjawab: “Benar, ya Rosululloh.”
Beliau bersabda: “Ia telah berkata benar kepada Allah dan Allah telah membenarkan perkataannya.”

Lalu Nabi SAW menutupi jasad itu dengan jubahnya, meletakkan mayatnya di depan lalu mensholatkannya. Maka terdengar diantara do’a yang beliau panjatkan:
“.. Ya Allah, ini adalah hamba-Mu, keluar untuk berperang di jalan-Mu dan mati syahid membela apa yang dia yakini benar! Ya Allah, aku sebagai saksinya.”





episode yang ku nanti

20 08 2009




Berdamai dengan kegelapan

14 08 2009

imgFinal Fantasy VII1Terlahir sebagai anak tuna netra, Eko Ramaditya Adikara (Rama), pernah membuat galau ibunya. Saat Rama masih kecil, dengan kebutaannya, Sang Ibunda berpikir mungkin Rama dewasa hanya akan menjadi seorang tukang pijat, sebuah profesi puncak dan popular bagi para tuna netra pada umumnya. Saat merenungi hal itu, hati Sang Ibunda seperti teriris-iris penuh kesedihan.

*   *   *    *

Semua perasaan Sang Ibunda berusaha dikubur dalam-dalam, agar Rama tidak mengetahuinya. Ibundanya senantiasa memperlakukan Rama seperti tidak ada masalah apa-apa. Seolah dunia dengan warna hitam yang setiap hari dipandangi Rama, juga dunia yang sama dilihat oleh semua manusia.

Berjalannya waktu, Rama pun mengetahui kelemahannya. Namun Rama bukan seorang yang pasrah begitu saja, ia terus berjuang untuk belajar dan mencoba. Meski kegelapan mewarnai pandangan matanya, Rama terus berlatih dan meningkatkan keahlian indera yang lainnya. Mimpinya terus diukir menembus ruang gelap yang melingkupinya siang dan malam.

Sekolah formal dilalui dengan penuh perjuangan, SD, SMP, SMA hingga kuliah di PT. Tak sedikit sekolahan yang meragukan kemampuan Rama mengikuti pelajaran, malah beberapa langsung menolak ketika ia hendak mendaftar. Namun Rama terus saja membuktikan bahwa ia mampu sebagaimana orang lain yang normal.

Kegemarannya dengan komputer serta kemampuan bahasa inggrisnya yang menonjol membuat Rama cepat menangkap dan mengembangkan informasi yang diterimanya. Daya dengar serta konsentrasinya yang baik membantunya mengenali dan memahami apa yang ada dihadapannya.

Kini, Rama adalah manusia dengan segudang talenta. Ia adalah seorang game music composer untuk perusahaan mainan Nitendo dari Jepang. Sudah lebih dari 100 komposisi musik yang dibuatnya, termasuk game Final Fantasy yang terkenal.blind power!

Rama juga desainer dan penulis blog yang kreatif dan produktif. Tulisannya banyak menginspirasi pembacanya. Ia pun seorang penulis buku, wartawan serta editor untuk berbagai media serta motivator dalam berbagai acara pelatihan motivasi.

Rama telah membuktikan bahwa kesungguhan, kerja keras dan kreatifitas adalah kekuatan yang tak terkalahkan untuk menghadapi kegelapan serta tantangan hidup ini. Dalam pikirannya, Rama mengembangkan lima bidadari imajiner sebagai penggugah hidupnya untuk terus berkarya. Salah satunya bernama Aurora, bidadari yang selalu memancarkan cahayanya ke segala arah di alam semesta ini. Rama ingin senantiasa menebarkan cahaya semangat ke sekelilingnya, meskipun dirinya selalu ditemani kegelapan.

Bagaimana dengan kita yang tidak buta, guys?

.
dari artikel ‘Cahaya dalam kegelapan’
www.ddjogja.org dengan  modifikasi oleh dreamer





Sebersit kerinduan

29 07 2009

.

.

.


Ya Rabb..   Berkahilah kami di bulan Sya’ban ini,
dan sampaikanlah kami di bulan Ramadhan..

.

.

.

.





Just for my mom..

29 07 2009

rindu-ibu-blog

.

Oh..
ku tau kau berharap dalam do’amu
ku tau kau berjaga dalam langkahmu
ku tau slalu cinta dalam senyummu

Oh Tuhan..
ku pinta, bahagiakan mereka sepertiku
(Andai aku besar nanti, Sherina)

*  *  *  *  *

Guys.. sejenak mengingat detik dan jam yang tlah berlalu, ketika hari2 sulit sedemikian menyesakkan dada, memenuhi ruang pikir dan hati kita. Seakan tak ada lagi jalan keluar, yang ada hanya buntu dan menthok lagi. Namun tiba2, pertolongan-Nya datang.. Allohu akbar. Tak tau dari mana dan bagaimana, jawaban itu datang. Seakan semua belitan yang ada terurai satu demi satu, berkuintal beban di pundak pun hilang perlahan, di ikuti tarikan lega napas ini.. huff.

Guys.. pernahkah kita berpikir ketika detik2 berat itu menghadang, pada saat itu seorang wanita tengah mendo’akan kita. Di antara dinginnya udara malam yang berembus, di sela lemahnya fisik yang dimakan usia, beliau bangun, mengambil air sedingin es, kemudian menyungkurkan wajahnya ke lantai, menghinakan diri dan bersimpuh kepada-Nya. Ada putihnya cinta dan segenap kerinduan, disela2 isak tangis do’anya kepada kita, ya.. kita guys! anaknya.

Guys.. do’a beliau menyeruak ke atas, beriringan dengan langkah malaikat yang membawa catatan amal manusia dan mengetuk pintu langit. Tuhan yang tak pernah tidur, melihat ketulusan itu.. mengabulkan do’a beliau.

Guys.. mumpung ada waktu untuk pulang, segeralah pulang! Berlarilah secepat mungkin, rumah adalah tempat berpulang.. jasad dan hati kita. Peluklah beliau, seerat mungkin! Ucapkan terima kasih yang mendalam, yang tulus, yang putih..





Malang, I’m in Love

23 07 2009

Alhamdulillah.. setelah sumpek wal pegel selama 2 hari cuma bisa duduk, jalan selangkah-dua langkah, makan, tidur, duduk lagi.. di hotel, kesampaian juga bisa jalan2 liat kota Kembang. Panitia dah menyediakan bus eksekutif untuk para peserta untuk di-jalan2-kan di hari terakhir Training ke Batu, Selekta, dsb.

Wah.. nggak asik lah! Selain crowd banget coz lagi musim liburan, paling juga gitu2 penampakan taman wisatanya (sok tau nih ;p). Akhirnya saya dan 2 teman side-tracking ceritanya, cabut duluan pagi2. Tujuan kami bertiga adalah Arema Bentoel Stadium Kanjuruhan, tapi karena jauh maka ganti stadion Gajahyana trus ke taman kota dan Unibraw sorenya. Seorang teman usul kalo naik travel hotel ato taksi aja, wah.. nggak keren no! So.. berbekal blocknote penuh denah coret2an pak satpam plus angkot yang mesti dinaikin, Bismillah.. berangkat!

Sampai juga di stadion.. Nekat juga, kita bertiga masuk muter2 Gajahyana padahal aku pake kaos PSS, temenku pake Liverpool dan satunya Arema! Untung nggak digebukin ma fans Persema, Piss man!

Setelah kemringet coz ikut futsal di parkiran, lanjut jalan2 muteri kota apel Malang. Seandainya MTB-ku tak bawa, pasti bisa puas banget liat taman2 ma bangunan2 kuno yang lumayan banyak di kota ini. Kota seribu taman, benar juga.. tertata apik dan bersih. Untuk ukuran perkotaan, jalan2 di sini lumayan sepi menurutku. Tidak ada bus kota dengan asap yang memenuhi ruang napas kota, sebab dalam kota yang dibolehkan hanya angkot. Semua angkot berwarna biru (Hidup Arema! :p), yang membedakan hanya inisial huruf di kaca depan yang beberapa angkot tertulis kuecil2.. sehingga kadang penumpang nyetopnya ndadak coz baru tau itu angkotnya setelah dekat.

Mampir ke distronya Arema, cihuy.. disambut Mars Arema! dari tape.

Arema di dadaku… Arema kebanggaanku..
Arema di dadaku..Arema kebanggaanku,
kuyakin sore ini pasti menang…
kobarkan semangatmu, tunjukkkan sportivitasmu,
kuyakin sore ini pasti menang…
(Mars ini diubah untuk OST. Garuda di dadaku)

.

Grrrr.. merinding juga, aroma fanatisme arek2 Malang luar biasa!
Bukan bermakna negatif, namun sebuah semangat, profesionalisme & kreativitas. Foto2 yang terpampang di dinding juga keren!

1421688183_472b78cf3c

.

Semangat bro! Viva Arema!
Jangan bubar ya..! :’(





young, fast & reliable

23 06 2009

muda luar biasa

.

Lepaskan semua belenggu yang melingkari hidupmu
berdiri tegak menantang, di sana di garis depan
aku berteriak lantang, untuk jiwa yang hilang
untuk mereka yang selalu tersingkirkan

Dan jika kami bersama
nyalakan tanda bahaya
smangat akan menghentak,
anda akan tersentak..!!

Dan kami tahu anda bosan
dijejali rasa yang sama

Kami adalah kamu
muda, beda dan berbahaya

(Jika kami bersama by Superman is dead)





Episode terindah

18 06 2009

Beberapa saat yang lalu, tengah malam datang pasien bayi baru lahir, prematur dengan berat 1,4 kg yang diantar oleh bapak, neneknya dan seorang bidan.

Segera aku telfon PICU, ICU untuk bayi baru lahir (Perina Intensive Care Unit). Full bro.. tapi ada inkubator yang masih ‘kosong’. As usual.. disini 1 inkubator untuk 2 bayi! berarti ada 1 inkubator yang ‘baru’ terisi 1 bayi. (Tenang.. belum pernah ada cerita sinetron ra mutu, kalo ada bayi yang ketukar disini koq! Paling tidak, hingga aku bertugas disini, he..)

Singkat cerita, masuklah si mungil malam itu. Pagi harinya aku visit kesana & keduanya tampak rukun2 saja, namun si mungil malah turun menjadi 1,3 kg. Malam harinya aku telfon teman sejawat yang jaga disana, ternyata siang tadi ‘teman’ si mungil mengalami asfiksia sehingga dipindah ke ruang isolasi dan meninggal jam 6 sore tadi.

Hari ke-3 si mungil di PICU, pagi hari berat turun 0,5 ons lagi & muncul tanda2 asfiksia (kulit pucat kebiruan). Aku paling benci dengan ‘mitos’ di ruangan ini: 1 inkubator 1 nasib! Shitt..!

Jam 9 pagi, si mungil  pindah ke ruang isoalasi. Berbagai kabel dan selang berseliweran di sekitar tubuhnya yang mulai memucat. Tat-tit2..suara monitor menunjukkan banyak parameter yang tidak normal.

Dengan sangat berat hati (karena ini adalah hal yang paling sulit aku lakukan sejak pertama kali menjadi dokter), aku mesti memanggil ortunya; memberikan motivasi., menjelaskan apa yang sudah kita lakukan, keadaan si mungil saat ini dan apa yang mungkin terjadi, kemampuan & keterbatasan kita, hingga konsep Alloh yang menentukan segalanya, bla2. Keduanya terdiam & tertunduk (ini memang anak pertama mereka, tapi yakinlah bro.. aku pernah memotivasi ortu karena kondisi anak ke-6 mereka yang kritis, keadaannya juga seperti ini!)

Tiba2.. si ibu menjawab: Makasih dok, telah membantu semaksimalnya.. Jika Gusti Alloh mempercayakan anak ini kepada kami, insya Alloh akan segera sembuh & kami bisa pulang bersama..

Ya Alloh.. Gusti.. Engkau Maha Kuasa!

Hari ke-4 sore hari, si mungil kembali ke inkubatornya setelah malam hingga paginya stabil membaik dan suara monitor isolasi tidak ‘seribut’ seperti siang kemarin. Hari ke-5 beratnya naik 1,5 ons, kondisi stabil membaik. Refleks menetek dah ada, namun ASI ibunya belum keluar.. untunglah ada ‘pendonor’ ASI disini.

Hari ke-6 malam hari, ortu si mungil menemuiku.
‘Dok, nama lengkap dokter siapa?’ Tanya si ibu.
‘Saya …, kenapa ibu?’ tanyaku balik.
‘Boleh nggak nama dokter kagem nami anak saya?’
Aku tersenyum kaget, sejenak terdiam
‘Ibu.. boleh saya usul nama? 1 kata saja, ibu bisa rangkai nama yang lain’
‘Boleh, dok’ jawab si ibu, si bapak hanya tersenyum.
‘Sakti..!’, jawabku sambil tersenyum.

Hari ke-7 pagi, aku telfon Sp.A melapor kondisi si mungil saat ini dan dibolehkan pulang  jika hingga sore nanti tetap stabil.

Sore hari, si mungil di gendong eyang putrinya, si ibu membawa tas & si bapak membawa tikar, tas kresek dan termos. Inilah salah satu episode yang paling membahagiakan bagiku.. Pasien sekeluarga, bersalaman dengan kami yang btugas pada saat itu dan tersenyum  pulang.mungil

* * * * *

Seakan jutaan warna  indah muncul melukis ceria  langit sore itu, Allohu akbar.. matur nuwun gusti.

NB: Nama anak itu: Sakti Wahyu Pradana :) ,
smoga mjadi anak yang sholeh & bbakti.. amin.