Dari Syaddad bin AlHad, ia bercerita bahwa seorang Badui yang tinggal jauh di pinggiran kota Madinah datang kepada Nabi SAW, bersahadat dihadapannya dan berkata: “Aku ingin berjihad bersama engkau.”
Tatkala terjadi peperangan dan kaum muslimin memperoleh kemenangan, maka Nabi SAW membagi harta rampasan perang (ghonimah) kepada semua tentara Islam serta kaum muslimin, tak terkecuali si Badui tersebut.
Ketika seorang utusan memberikan bungkusan ghonimah tersebut, si Badui bertanya: “Apa ini?”, utusan itu menjawab: “Ini adalah bagianmu dari Nabi SAW.”
Lalu segera si Badui mengambil bungkusan tersebut dan bergegas menemui Nabi SAW di Madinah. Di hadapan Nabi SAW ia bertanya: “Apa ini?”, Nabi SAW tersenyum dan menjawab: “Ini bagian harta rampasan perang untukmu”.
Si Badui segera menjawab: “Bukan karena ini aku mengikuti engkau, Muhammad! Aku mengikutimu agar aku bisa berperang membela agama ini, lalu aku terkena anak panah disini, yang menyebabkan aku mati syahid dan masuk ke Syorga-Nya.”; Katanya tegas sambil menunjuk lehernya.
Nabi SAW tersenyum dan menjawab: “Jika engkau berkata benar kapada Allah SWT, tentu Dia akan membenarkan ucapanmu.”
Beberapa saat kemudian, kaum muslimin harus bangkit berperang lagi menghadapi kaum kafir. Perang berlangsung sangat sengit dan akhirnya Allah SWT memberi kemenangan kepada kaum muslimin.
Ketika hendak menguburkan para syuhada perang, sesosok mayat dibawa ke hadapan Nabi SAW dengan anak panah yang menancap di lehernya.
Nabi SAW bertanya: “Apakah ini orang badui itu?”
Para sahabat menjawab: “Benar, ya Rosululloh.”
Beliau bersabda: “Ia telah berkata benar kepada Allah dan Allah telah membenarkan perkataannya.”
Lalu Nabi SAW menutupi jasad itu dengan jubahnya, meletakkan mayatnya di depan lalu mensholatkannya. Maka terdengar diantara do’a yang beliau panjatkan:
“.. Ya Allah, ini adalah hamba-Mu, keluar untuk berperang di jalan-Mu dan mati syahid membela apa yang dia yakini benar! Ya Allah, aku sebagai saksinya.”
Terlahir sebagai anak tuna netra, Eko Ramaditya Adikara (Rama), pernah membuat galau ibunya. Saat Rama masih kecil, dengan kebutaannya, Sang Ibunda berpikir mungkin Rama dewasa hanya akan menjadi seorang tukang pijat, sebuah profesi puncak dan popular bagi para tuna netra pada umumnya. Saat merenungi hal itu, hati Sang Ibunda seperti teriris-iris penuh kesedihan.






KOMENTAR TERAKHIR